Rabu, 03 April 2013

Identifikasi Aldehid, Keton, Amina, dan Asam Karboksilat

#KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD FULL VERSION (M. WORD)

BAB I
PENDAHULUAN
I.1        Latar Belakang
Dalam kimia organik banyak sekali pengidentifikasi macam-macam gugus,contohnya amina, karboksilat, aldehid keton, karbohidrat dan lain-lainya. Pada praktikum kimia organik ini bisa didapat identifikasi aldehyd dan keton dengan mengamati reaksi dari gugus karbonilnya dengan identifikasi tollens test, iodoform test, 2-4 dinitrophenylhidrazine, asam kromat. Identifikasi amina dengan cara hinsberg test, asam nitrat test, pH dari larutan. Identifikasi Asam karbonat dengan pH dari larutan, sodium bicarbonate test.
Aldehyde merupakan salah satu gugus fungsi karbonil dengan rumus kimia R-CHO sedangkan keton berbeda pada ikatan tangan nya yaitu R – CO – R. Amina merupakan senyawa yang memiliki atau mengandung gugus amino. Asam karboksilat adalah senyawa karbon yang benar – benar menunjukan derajat keasaman yang sangat besar.
I.2        Tujuan Percobaan
1.      Mengidentifikasi adanya aldehyd dan keton
2.      Mengidentifikasi adanya amina
3.      Mengidentifikasi adanya asam karboksilat
I.3        Manfaat Percobaan
1.      Kita dapat mengetahui reagen-reagen apa saja yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi adanya aldehyd dan keton, amina, asam karboksilat.
2.      Kita dapat mengetahui tesst-test apa saja yang bisa digunakan untuk mengetahui adanya aldehyd, keton, amina dan asam karboksilat.
3.      Kita dapat mengetahui cara-cara perhitungan nya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1      Secara Umum
II.1.1   Aldehid
Gugus karbonil,  C = O, hanya dimiliki oleh golongan senyawa aldehida, keton, asam karboksilat, ester dan turunan lainnya. Senyawa ini penting dalam banyak proses biologi dan merupakan mata niaga penting pula. Aldehida mempunyai paling sedikit satu atom hidrogen melekat pada gugus karbonil. Gugus lainnya dapat berupa gugus hydrogen, alkil atau aril.
Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung gugus karbonil (C=O) yang terikat pada sebuah atau dua buah unsur hidrogen. Aldehid berasal dari “alkohol dehidrogenatum“. (cara sintesisnya).
Struktur Aldehid : R – CHO
II.1.1.1 Pembuatan aldehid :
v  Oksidasi dari alkohol primer
v  Oksidasi dari metilbenzen
v  Reduksi dari asam klorida
II.1.1.2 Tata nama aldehid
Dalam sistem IUPAC, aldehida diberi akhiran  –al (berasal dari suku pertama aldehida). Contoh-contohnya adalah sebagai berikut :
Karena aldehida telah lama dikenal, nama-nama umum masih sering digunakan. Nama-nama tersebut dicantumkan dibawah nama IUPAC-nya. Karena nama ini sering digunakan, anda perlu juga mempelajarinya juga.
Untuk aldehida yang mempunyai subtituen, penomoran rantai dimulai dari karbon aldehida sebagai mana contoh berikut :
Untuk aldehida siklik, digunakan awalan-karbaldehida. Aldehida aromatik sering mempunyai nama umum.

II.1.2 Keton
Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil (C=O) terikat pada dua gugus alkil, dua gugus aril atau sebuah alkil dan sebuah aril. Sifat-sifat sama dengan aldehid.
Struktur: (R)2-C=O
Contoh : propanon = dimetil keton = aseton = (CH3)2-C=O
II.1.2.1 Pembuatan keton
v  Oksidasi dari alkohol sekunder
v  Asilasi Friedel-Craft
v  Reaksi asam klorida dengan organologam


II.1.2.2 Tata nama keton
Dalam sistem IUPAC, keton diberi akhiran-on (dari suku kata terakhir keton). Penomoran dilakukan sehingga gugus karbonil mendapat nomor kecil. Biasanya keton diberi nama dengan menambahkan kata keton setelah nama-nama gugus alkil atau aril yang melekat pada gugus karbonil. Sama halnya dengan aldehida nama umum sering digunakan. Contohnya adalah sebagai berikut :
(Ratna dkk , 2010)

II.1.3 Amina
Amina dapat dianggap sebagai turunan dari amonia dengan mengganti satu, dua atau tiga hidrogen dari amonia dengan gugus organik. Senyawa ini mempunyai gugus sebagai beriku: RNH2. Senyawa organik bersifat basa lemah, dibanding air lebih basa.Jumlah unsur C kecil sangat mudah larut dalam air.
Penting amina meliputi
asam amino, biogenik amina, trimetilamina, dan anilina, lihat Kategori: Amina untuk daftar amina. Turunan amonia anorganik juga disebut amina, seperti chloramine (NClH 2).
Senyawa dengan atom nitrogen yang melekat pada sebuah karbonil dari struktur RC (= O) 2 NR disebut Amida dan memiliki sifat kimia yang berbeda dari amine. Sebuah amina aromatik adalah amina dengan aromatik substituen - yaitu - N H 2, - N H - atau nitrogen grup (s) yang melekat pada sebuah hidrokarbon aromatik, struktur yang biasanya mengandung satu atau lebih cincin benzena. Anilina adalah contoh sederhana.
Aromatik amine, ketika terprotonasi, biasanya memiliki pKa lebih rendah's (adalah lebih asam) daripada partisi non-aromatik analog. Hal ini disebabkan oleh delocalization dari pasangan elektron dari nitrogen ke dalam ring.
II.1.3.1 Pembuatan Amina
1.      Cara Reaksi Reduksi
a.       Pembuatan amina primer
Untuk pembuatan amina primer, reaksi terjadi dalam dua tahapan. Pada tahapan pertama, terbentuk sebuah garam – dalam hal ini, etilamonuim bromida. Garam ini sangat mirip dengan amonium bromida, kecuali bahwa salah satu atom hidrogen dalam ion amonium telah diganti oleh sebuah gugus etil. Dengan demikian, ada kemungkinan untuk terjadinya reaksi reversibel (dapat balik) antara garam ini dengan amonia berlebih dalam campuran. Amonia mengambil sebuah atom hidrogen dari ion etilamonium sehingga menjadikannya amina primer, yakni etilamina. Semakin banyak amonia yang terdapat dalam campuran, semakin besar kemungkinan terjadi reaksi selanjutnya.
b.      Pembuatan amina sekunder
Reaksi di atas tidak berhenti setelah amina primer terbentuk. Etilamina juga bereaksi dengan bromoetana – dalam dua tahapan yang sama seperti reaksi sebelumnya. Pada tahap pertama, terbentuk sebuah garam – kali ini, dietilamonium bromida. Anggap garam yang terbentuk ini adalah amonium bromida dengan dua atom hidrogen yang digantikan oleh gugus-gugus etil. Lagi-lagi terdapat kemungkinan terjadinya reaksi reversibel (dapat balik) antara garam ini dengan amonia berlebih dalam campuran tersebut, seperti diperlihatkan pada gambar berikut: Amonia mengambil sebuah ion hidrogen dari ion dietilamonium sehingga menjadikannya amina sekunder, yakni dietilamin. Amina sekunder adalah amina yang memiliki dua gugus alkil terikat pada atom nitrogen.
c.       Pembuatan amina tersier
Setelah amina sekunder terbentuk, reaksi masih belum berhenti. Dietilamina juga bereaksi dengan bromoetana – dalam dua tahapan yang sama seperti pada reaksi sebelumnya. Pada tahapan pertama, terbentuk trietilamonium bromida. Lagi-lagi ada kemungkinan terjadinya reaksi reversibel (dapat balik) antara garam ini dengan amonia berlebih dalam campuran tersebut, sebagaimana ditunjukkan berikut: Amonia mengambil sebuah ion hidrogen dari ion trietilamonium sehingga menjadikannya amina tersier, yakni trietilamin. Amina tersier adalah amina yang memiliki tiga gugus alkil terikat pada nitrogen.
(Domas Cahyo , 2013)

II.1.4 Asam Karboksilat
Asam organik yang paling penting adalah asam-asam karboksilat. Gugus fungsinya adalah gugus karboksil, kependekan dari dua bagian yaitu gugus karbonil dan hidroksil. Rumus asam karboksilat dapat dipanjang dan atau dipendekkan seperti :
II.1.4.1 Pembuatan asam karboksilat
v  Oksidasi alkohol primer
v  Oksidasi alkil benzen
v  Carbonasi Reagen Grignard
v  Hidrolisin nitril
II.1.4.2 Tatanama Asam karboksilat
Karena banyak terdapat dialam, asam-asam karboksilat adalah golongan senyawa yang paling dulu dipelajari oleh kimiawan organik. Karena tidak mengherankan jika banyak senyawa-senyawa asam mempunyai nama-nama biasa. Nama-nama ini biasanya diturunkan dari bahasa Latin yang menunjukkan asalnya. Tabel 12.8 memuat nama-nama asam berantai lurus beserta nama IUPAC-nya. Banyak dari asam ini mula-mula dipisahkan dari lemak sehingga sering dinamakan sebagai asam-asam lemak (struktur  lemak secara terinci dibahas dalam bab berikutnya). Untuk memperoleh nama IUPAC suatu asam karboksilat terakhir) diperlukan awalan kata asam da akhiran at. Asam-asam bersubstitusi diberi nama menurut dua cara. Dalam sisitem IUPAC, nomor rantai dimulai dari asam karbon pembawa gugus karboksil dan substituen diberi nomor lokasi. Jika nama umum yang digunakan lokasi substituen dilambangkan dengan huruf latin, dimulai dengan atom karbon α.
Jika gugus karboksilat dihubungkan dengan cincin, akhiran karboksilat ditambahkan pada nama induk sikloalkana.
Asam-asam aromatic juga diberi tambahan –at pada turunan hidrokarbon aromatiknya. Beberapa contoh diantaranya :
(Ratna dkk , 2010)
           
II.2 Sifat Bahan
1.      Sodium hydroxide (NaOH)        
·         Massa Molar 39,997 g/mol
·         Tepat Massa 39,992 g/mol
·         Berbentuk padatan putih seperti lilin yang dapat larut dalam air
·         bersifat basa dan higroskopik.
·         Densitasnya 2.13 g/cm3
·         Titik leleh 318 °C
·         Titik didih 1388 °C
·         Kelarutan dalam air 1110 g/L (pada 20°C)
·         Kelarutan dalam Metanol 238 g/L
·         Kelarutan dalam Etanol 139 << g/L
2.      H2SO4 (Asam Sulfat)
·         merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat dan berbahaya.
·         Massa Molar 98,09 g/L
·         Berupa cairan yang berwarna bening
·         Tidak berbau
·         Densitas 1,84 g/cm
·         Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan.
·         Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan merupakan salah satu produk utama industri kimia.
·         Titik Leleh 10°C
·         Titik Didih 337°C
3.      KOH (Kalium Hidroksida)
·          berbentuk padatan berwarna putih
·         Densitasnya (2.044 g/cm3)
·         Titik leleh 420 °C
·         Titik didih 1327 °C
·          kelarutan dalam air 110 g/100 mL (25 °C) 178 g/100 mL (100 °C).
4.      Sodium Nitrat
·         dapat larut dalam air
·         berbentuk padatan.
5.      Ethanol
·         sejenis cairan yang mudah menguap dan mudah terbaka
·          tak berwarna
·         merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
·         Densitasnya 0,789 g/cm3
·         Titik leleh −114,3
·         Titik didih 78,4.
6.      Asam Kromat
·         Di laboratorium, asam kromat digunakan sebagai oksidator maupun katalis
·         Larutan asam kromat dibuat dengan cara mengasamkan larutan yang mengandung ion kromat atau dikromat.
·          Larutan ini bersifat oksidator kuat
·          berwarna merah kecoklatan, jingga atau kuning tergantung konsentrasi kromium (VI).
7.      Asam Formiat (CH2O2)
·         Massa Molar 46,03 gr/mol
·         Densitas 1,22 gr/ml
·         Keasaman 3,77
·         Cairan tak berwarna
·         Dapat merusak kulit
·         berbau tajam
8.      Asam Asetat
·         Massa Molar 60,05 g/ml
·         Densitas 1,049 g/cm³
·         Titik Lebur 16,5 °C
·         Titik Didih 118,1 °C
·         Cairan ini tidak berwarna
9.      Sodium Bicarbonate
·         Senyawa ini sering terdapat dalam kristal yang berbentuk serbuk
·         Natrium Bikarbonat larut dalam air
10.  Iodine
·         Berbentuk gas bervalensi 1
·         Termasuk dalam golongan anion
11.  Kalium Iodida (KI)
·         Massa Molar 166,0028 g/mol
·         Berbentuk padat kristal dan berwarna putih
·         Densitas 3,123 g/cm³
·         Titik Lebur 681°C, 954K, 1258°F
·         Titik Didih 1330°C, 1603K, 2426°F
·         Kelarutan dalam air 128 g/mol (°C)
12.  Aniline
·         Massa Molar 93,13 g/mol
·         Berbentuk cairan berwarna
·         Densitas 1,0217 g/m
·         Titik Didih 184,13l°C
·         Titik Lebur -6,3 °C
·         Dapat larut dalam air dengan kelarutan 3,6 g/100ml (20°C)
13.   2-4 Dinitrophenylhidrazine
·         Berbentuk bubuk yang berwarna merah atau orange
·         Relatif sensitif terhadap goncangan dan gesekan
·         Sedikit dapat larut dalam air
·         Mudah terbakar

II.2.1 Sifat Aldehid dan Keton
Sifat kimia dari aldehida dan keton ditentukan oleh gugus karbonil, oleh karena itu tidaklah mengherankan jika ada beberapa sifat dari aldehida dan keton yang memilki kesamaan, namun karena adanya perbedaan gugus yang terikat pada gugus karbonil antara aldehida dengan keton maka timbul beberapa perbedaan sifat kimia yang paling menonjol antara aldehid dengan keton, diantaranya :
·         Aldehida mudah teroksidasi sedangkan keton agak sukar teroksidasi
·         Aldehidan lebih reaktif dibandingkan dengan keton terhadap adisi nukleofiliki.
Sifat-sifat fisik dari aldehida dan keton :
·         Aldehida dan keton tidak mengandung hidrogen yang terikat pada oksigen, sehingga tak dapat terjadi ikatan hidrogen seperti pada alkohol. Sebaliknya aldehida dan keton adalah polar dan membentuk daya tarik menarik elektrostatik yang relatif kuat antara molekulnya bagian positif dari sebuah molekul akan tertaril pada bagian negatif lainnya.
·         Aldehida dan keton mempunyai titik didih intermediet antara senyawa ikatan hidrogen dan senyawa non polar
·         Kelarutan aldehida dan keton dalam air sama dengan alkohol karena senyawa ini dapat membenuk ikatan hidrogen dengan ikatan hidrogen dari air atau fenol

II.2.2 Sifat Amina
Sifat-Sifat Fisik Dari Amina :
Suatu Amina mengandung ikatan ikatan N–H dapat membentuk ikatan hydrogen dengan elektron sunyi dari oksigen atau nitrogen lain. Dari dua macam ikatan hydrogen, ikatan NH–N jauh lebih lemah daripada ikatan OH–O. Alasan mengapa terjadi perbedaan dalam kekuatan ikatan nitrogen kurang elektronegatif dibandingkan dengan oksigen, dan ikatan N–H dengan sendirinya kurang polar.
Titik didih dari amina yang mengandung suatu ikatan N—H adalah ditengah-tengah antara alkana (tidak ada ikatan hydrogen) dan alcohol (ikatan hydrogen kuat). Titik didih amina yang mempunyai ikatan hydrogen lebih tinggi daripada amina yang yang tidak mempunyai ikatan hydrogen. Contoh: Trimetilamina mendidih pada temperature lebih rendah daripada etilmetil amiba.
(Yuliman Muharram , 2011)

II.2.3 Sifat Asam Karboksilat
Wujud dari asam karboksilat tergantung dari jumlah atom C-nya, untuk senyawa asam karboksilat yang memiliki atom C kurang dari 10, maka wujud zat tersebut adalah cair pada suhu kamar. Sedangkan asam karboksilat yang memiliki panjang rantai C 10 atau lebih berwujud padat.
Asam karboksilat dengan panjang rantai 1-4 larut sempurna dalam air, sedangkan asam karboksilat dengan panjang rantai 5-6 sedikit larut dalam air dan asam karboksilat dengan panjang rantai lebih dari 6 tidak larut dalam air. Asam karboksilat larut dalam pelarut organik (seperti eter, alkohol dan benzena). Semua asam karboksilat merupakan asam lemah dengan Ka= +-1×10-5.
Asam karboksilat memiliki titik didih yang tinggi (lebih tinggi daripada alkohol), karena dapat membentuk ikatan hidrogen yang kuat.
1.      Reaksi dengan Basa Kuat
Reaksi Asam karboksilat dengan basa kuat akan membentuk garam dan air. Garam karboksilat hasil reaksi merupakan sabun. Reaksi ini sering disebut juga dengan reaksi penyabunan, (Bagan 12.55).
2.      Reaksi substitusi
a. reaksi dengan halida (PX3, PX5 dan SOX2) akan menghasilkan suatu asilhalida (Bagan 12.56).
b. reaksi dengan alkohol akan menghasilkan suatu ester dan H2O.
3.      Reaksi Reduksi menggunakan katalis CaAlPH4akan menghasilkan alkohol primer.
4.      Reaksi dehidrasi (penghilangan molekul H2O) akan menghasilkan anhidrida asam karboksilat, lihat Gambar 12.57.
Bagan 12.55. Reaksi penyabunan
Bagan 12.56. Reaksi substitusi OH dengan halida
(Zulfikar , 2010)                                   

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
III.1 Bahan-bahan yang digunakan
1.      1ml larutan Tollens A.
2.      1ml larutan Tollens B (NaOH 10%).
3.      Larutan amonia yang telah diencerkan dengan aquadest.
4.      Cairan Aldehyd.
5.      5ml Aquadest
6.      Sodium hydroxide 10% (NaOH 10%)
7.      Larutan KI + I2
8.      Cairan amina (Aniline)
9.      Larutan KOH 10%
10.  Larutan asam oksalat
11.  Larutan asam formiat
12.  Larutan sodium bicarbonat 5%
13.  H2SO4
14.  Larutan p-naptnl
15.  NaNO10%
16.  AgNO7
17.  Asam acetad


18.  Na2CO7
III.2 Alat-alat yang digunakan
1.      Tabung reaksi
2.      Gelas ukur
3.      Pipet tetes
4.      Mortar Pestle
5.      Beaker glass
6.      Aquades
7.      Neraca analitik
8.      Labu ukur
9.      Botol kosong
10.  Spatula
III.3 Gambar dam susunan alat
1.      Tabung Reaksi                    2. Gelas Ukur                 3. Pipet Tetes                  





4. Mortar Pestle                       5. Gelas Baker                      6. Aquades



            7. Neraca analitik        8. Labu ukur          9. Botol Kosong     10. Spatula


III.4 Prosedur Praktikum
III.4.1 Identifikasi Aldehyd dan Keton
          1.      Tollens test
Reagen harus disediakan ebelumdigunakan. Untuk menyediakan reagen, campurkan 1ml larutan. Tollens A dengan 1ml larutan tollens B (NaOH 10 %). Endapan perak oksida akan terbentuk. Tambahkan kira0-kira 10 % larutan amonia secara perlahan-lahan kedalam campuran untuk melarutkan perak oksida. Reagen yang telah disiapkan dapat digunakan seketika untuk membuktikan suatu identifikasi. Ambil beberapa tetes cairan aldehyd, tambahkan larutan ini kedalam tabung reaksi yang berisi 2-3ml reagen. Kemudian kocok larutan. Jika didalam tabung reaksi terbentuk cermin perak maka identifikasi tersebut perlu memeanaskan tabung reaksi kedalm air hangat.

         2.      Iodoform test
Dengan menggunakan pipet Pasteur, tambahkan 4teets cairan yang tersedia kedalam tabung reaksi yang besar, 5ml aquadest dan 1ml sodium hydroxid 10%. Ambil setetes demi setetes iodine dari larutan KI kedalam larutan didalam tabung reaksi, kocok tabung reaksi setelah penambahan larutan. Selama penambahan akan mengakibatkan warna pelarut dari iodine akan hilang dengan cepat. Dalam beberapa hal, kocoklah tabung reaksi dengan kuat hingga warna dari larutan hilang dan kemudian berubah menjadi warna kuning muda. Selain itu perlu juga dilakukan sedikit pemanasan terhadap larutan didalm penangas air pada suhu 60o C. Untuk membantu menghilangkan warna dari larutan, sekali lagi kocok tabung reaksi dengan kuat setelah dilakukan pemansan.
Setelah warna dari larutan hilang sempurna, kemudian tambahkan aquadest kedalam tabung reaksi. Dan kocoklah dengan kuat. Diamkan tabung reaksi tersebut dalam waktu 5menit. Endapan kuning dari Iodoform akan terbentuk jika cairan yang tersedia adalah methyl keton atau campuran yang mudah teroksidasi menjadi methyl keton juga akan mengalami hilangnya warna, tetapi tidak akan membentuk endapan. Untuk membuktikan bahwa  endapan kuning adlah iodoform maka kita harus mengeringkan dan menentukan titik leleh dari endapan tersebut, dimana titik leleh dari iodoform adalah 119o-121C.

               3.      2-4 DINITROPHENYLHIDRAZINE
Masukkanlah 1teets cairan yang btersedia kedalam suatu tabung reaksi dan tambahkan 1ml reagen 2-4 dinitrophenilhydrazine. Jika campuran tersebut membentuk suatu padatan, larutkan kira-kira 10mg padatan dengan sedikit etyhanol 95% atau bis ( 2-etoxyethyl) ether sebelum ditambahkan reagen. Kocok campuran tersebut dengan kuat. Beberapa aldehyde dan keton dapat menghasilkan endapan berwarna kuning kemerah-merahan dalam waktu yang singkat. Akan tetapi, beberapa campuran lain baru dapat membnetuk endapan dalam waaktu lebih dari 5 menit, atau dapat juga dengan menggunakan pemanasan ringan untuk membentuk endapan. Endapan ini menunjukkan adanya aldehyde dan keton.
Campuran yang diidentifikasi :
Lakukan pengujian terhadap:
·         Cyclohexanone
·         Benzaldehyde
·         Benzophenone
REAGEN
Larutkan 3gram 2-4 dinitrophenylhidrazine kedlam 15 ml H2SO. Campurkan 20mlaquadest dan 70ml ethanol 95% kedalam beaker. Dengan pengadukan yang kuat, secara perlahan-lahan tambahkan larutan 2-4 dinitrophenilhydrazine kedlam campuarn ethanol. Setelah tercampur sempurna, kemudian saring larutan tersebut dengan menggunakan penyaring ir suling.

            4.      ASAM KROMAT
Ambil beberapa ml cairan, tambahkan beberapa tetes reagen asam khromat dengan cara dikocok. Untuk pembuktian dapat ditunjukkan dengan trebentuknya endapan berwarna hijau dan warna orange dari reagen akan menghilang. Dengan menggunakan aldehyde aliphatic RCHO, larutan menjadi keruh dalam waktu 5detik dan endapan trebentuk dalam waktu 30detik. Dengan aldehyd aromatic, Ar CHO pada umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama. Untuk identifikasi yang negatif, biasanya tidak membentuk endapan. Dalam beberapa hal dapat terbentuk endapan tetapi larutan yang dihasilkan berwarna orange. Didalam melakukan identifikasi, kita harus yakin apabila aceton digunakan sebagai pelarut tidak akan dapat membuktikan adanya aldehyde dan keton dengan menggunakan reagen asam khromat. Tambahkan beberapa tetes reagen asam khromat kedalam suatu tabung reaksi yang didalamnya terdpat sedikit reagen aceton. Diamkan campuran tersebut selama 3-5menit. Apabila tidak ada reaksi yang terjadi dalam waktu tersebut, maka aceton cukup murni untuk digunakan sebagai pelarut dalam identifikasi. Jika identifikasi terbukti, coba ke botol aceton yang lain atau murnikan beberapa acetondari aklium permanganat.

Campuran yang diidentifikasi
Lakukan pengujian terhadap:
·         Benzaldehyde
·         Butanal
·         Cyclohexanone
REAGEN
Larutkan 1gram CrOkedalam 1ml H2SO4, kemudian tambahkan dengan 3ml aquadest dengan perlahan-lahan.

III.4.2 Identifikasi Amina
1.      Hinsberg Test
Tampatkan 1ml cairan amina, tambahkan 0,2 gram p-toulena sulfonyl chloride atau benzena sulfonyl chloride dan 5ml larutan KOH 10% didalm tabung reaksi. Tutup tabung reaksi dengan rapat dan kocoklah selama 3-5 menit, kemudian buka tutupnya dan panaskan tabung reaksi dengan steam bath selama 1menit sambil dikocok. Dinginkan larutan dan amati dengan kertas pH yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya amina. Jika tidak terdapatkandungan amina didalm tabung reaksi tersebut, maka tambahkan KOH sampai terbentuk endapan. Kemudian tambahkan dengan 5ml aquadest dan kocoklah larutan tersebut. Jika endapan tidak terlarut maka sulfonamide dimungkinkan telah terbentuk mengandung 2-amina.

2.      Asam nitrat test
Larutakan 0,1 gr amina dalam 2 ml aquadest dan tambahkan 8tetes H2SO4. Gunakan tabung reaksi yang berukuran besar. Dinginkan larutan tersebut pada suhu 5oC dalam ice bath. Lakukan pendinginan terhadap 2ml larutan sodium nitrat 10% dalam tabung reaksi yang lain. Dalam tabung reaksi ketiga, siapkan larutan dari 0,1 gr -naphtol dalam 2ml cairan sodium hydroxide dan masukkan kedalam ice bath untuk didinginkan. Tambahkan larutan sodium nitrit setetes demi setetes sambil dikocok kedalam larutan amina.
Amati gelembung-gelembung gas nitrogen. Lakukan dengan hati-hati sehingga tidak mengganggu proses perubahan atau hilangnya warna coklat dari gas nitrogen. Perubahan terhadap gas yang terjadi pada suhu 5oC dapat menunjukkan adanya amina primer(aliphatic), RNH2. Terbentuknya cairan yang menyerupei minyak yang berwarna kuning atau endapan kuning dapat membuktikan adanya amina sekunder, R2NH. Amina yang lain yang tentunya berupa amina tersier tidak dapat bereksi atau dapat dikategorikan kedalam golongan amina sekunder. Apabila perubahan yang terjadi terhadap gas sangatlah minim pada suhu 50C, maka diamkan sebentar dan panaskan secra perlahan-lahan hingga mencapai suhu kamar.
Gelembung yang terbentuk pada suhu kamar dapat menunjukkan senyawa asli yang bisa kita sebut dengan amina primer (aromatik), ArNH2. Ambil bekas larutan tersebut dan tambahkan seteets demi seteets larutan β- naphtol. Jika terbentuk endapan merah, maka kita dapat membuktikan bahwa cairan yang tersedia tersebut adalah amina primer (aromatik ), ArNH2.

3.      pH dari larutan
Jika campuran tersebut larut dalam air, siapkan larutan tersebut dan amati pHnya dengan menggunakan kertas pH. Jika cairan tersebut berupa amina maka dapat dibuktikan dengan pH yang tinggi. Apabiala campuran tersebut tidak larut dalam air maka dapat dilarutkan terlebih dahulu dalam ethanol air atu 2-dimethoxy-etane.

4.      ACETYL CHGLORIDE
Amina dapat digunakan untuk membuktikan adanya acetyl chloride. Identifikasi ini dapat diuraikan dengan percobaan pada alkohol. Jika campuran ini dapt dinetralkan dengan air,maka amina primer dan sekunder dapat menghasilkan acetamide padat, sedangkan amina tersier tidak dapat menghasilkan padatan saama sekali.

III.4.3 Identifikasi Asam Karboksilat
1.      Sodium Bicarbonat Test
Larutkan sedikit campuran yang tersedia kadalam larutan sodium bicarbonat 5%. Amati larutan tersebut, jika campuran tersebut bersifat asam, maka akan terbantuk gelembung – gelembung CO2.
RCOOH + NaHCO3         RCOO-Na+ H2CO3
               H2CO3                          CO2  + H2O
                                       Gas / gelembung

2.      pH dari larutan

Apabila campuran tersebut dapat larut dalam air, siapkan larutan dan kemudian amati pHnya dengan menggunakan kertas pH. Jika campuran tersebut bersifat asam maka harga pHnya kecil. Jika campuran tersebut tidak dapat larut dalam air, maka dapat dilarutkan terlebih dahulu didalam ethanol (atau methanol) dan air.Pertama-tama tambahkan campuran tersebut kedalam alkohol dan kemudian tambahakan aquadest hingga larutan menjadi keruh. Selanjutnya tambahkan kedalam larutan tersebut setetes demi setetes alkohol dan amati pHnya dengan menggunakan kertas pH.

DAFTAR PUSTAKA
·         Ratna dkk, 2010. (http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_xi/aldehida-dan-keton/) 02 April 2013 . Jam 21.00 WIB
·         Ratna dkk, 2010. (http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_xi/asam-karboksilat-dan-turunannya/) 02 April 2013 . Jam 21.10 WIB
·         Domas Cahyo, 2013. (http://domas09.blogspot.com/2013/02/makalah-kimia-organik-amina.html) 02 April 2013 . Jam 21.45 WIB


·         Yuliman Muharram, 2011. (http://debuiho.wordpress.com/2011/01/20/draft-amina-aldehid-keton/) 02 April 2013 . Jam 22.00

Reaksi:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

berkomentarlah sesuai etika yang saudara miliki